Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Self Management Behavior Pada Penderita Hipertensi Primer
Abstract
Hipertensi merupakan faktor risiko ketiga terbesar yang menyebabkan kematian dini karena dapat memicu terjadinya gagal jantung kongestif serta penyakit cerebrovaskuler. Kejadian mortalitas dan morbiditas hipertensi dapat diturunkan dengan cara mengontrol tekanan darah dan merupakan indikator utama self management behaviour (SMB.) Faktor-faktor yang mempengaruhi self management behaviour meliputi usia, jenis kelamin, pekerjaan, tingkat pengetahuan, self efficacy serta dukungan keluarga. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis faktor yang mempengaruhi self management behavior pada penderita hipertensi di Puskesmas Ubud 1. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif korelatif dengan rancangan cross sectional dengan jumlah sampel sebanyak 87 orang. Hasil penelitian didapatkan mayoritas responden berumur 56-65 tahun sebanyak 48 orang (55%), mayoritas responden berjenis kelamin perempuan sebanyak 51 orang (58,6%), mayoritas responden memiliki pendidikan terakhir SMA sebanyak 43 orang (49,44%), mayoritas responden bekerja sebagai wiraswasta sebanyak 24 orang (27,6%), rata-rata lama menderita hipertensi adalah 7 tahun. Hasil identifikasi tingkat pengetahuan pada penderita hipertensi didapatkan responden memiliki tingkat pengetahuan baik sebanyak 68 orang (78,2%), responden yang memiliki self efficacy cukup sebanyak 51 orang (58,6%), sebanyak 56 orang (64,4%) memiliki dukungan keluarga kategori baik, sebanyak 72 orang (82,8%) memiliki self management behavior dalam kategori baik. Hasil analisis menggunakan rhank spearman hubungan tingkat pengetahuan dengan SMB didapatkan p value sebesar 0,026 (<0,05) berarti ada hubungan antara tingkat pengetahuan dengan self management behavior. Hubungan dukungan keluarga dengan SMB didapatkan p value sebesar 0,009 (<0,05), berarti ada hubungan antara dukungan keluarga dengan SMB pada pasien hipertensi. Hubungan self efficacy dengan self management behavior p value sebesar 0,208 (>0,05), hasil ini menunjukkan tidak ada hubungan antara self efficacy dengan SMB pada penderita hipertensi. Self management behaviour yang dilakukan secara efektif bermanfaat untuk meningkatkan kepuasan pasien dalam menjalani hidup, menurunkan biaya perawatan, meningkatkan rasa percaya diri, kemandirian pasien, dan meningkatkan kualitas hidup pasien. Perlu upaya yang berkelanjutan dalam meningkatkan self management behavior pada penderita hipertensi dengan memberikan edukasi serta pemantauan secara berkala melalui program yang ada di Puskesmas Ubud 1.
Kata kunci: Self Management Behaviour, Hipertensi
References
[2]. Yogiantoro, M. (2016). Hipertensi Esensial dalam Ilmu Penyakit Dalam (Edisi IV). Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI.
[3]. Lee, EunJu, and Euna Park. "Self-care behavior and related factors in older patients with uncontrolled hypertension." Contemporary nurse 53.6 (2017): 607-621.
[4]. WHO. (2020). Health Statistic And Information Systems.
[5]. RISKESDAS. (2018). Riset Kesehatan Dasar. Jakarta: Badan Penelitian Dan Pengembangan Kesehatan Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Penyakit Menular, 103. https://doi.org/10.1007/s13398-014-0173-7.2
[6]. Dinas Kesehatan Provinsi Bali. (2019). Profil Kesehatan Provinsi Bali 2018. Dinas Kesehatan Provinsi Bali, 1–129.
[7]. Akhter, N. (2010). Self-management among patient with hypertension in Bangladesh (Doctoral dissertation, Prince of Songkla University).
[8]. Lestari I. G. (2017). Pengaruh Self Management. Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 88(2012), 15–70.
[9]. Mulyati, L., Yeti, K., & Sukamrini, L. (2013). Analisis Faktor yang Memengaruhi Self Management Behaviour pada Pasien Hipertensi. Jurnal Keperawatan Padjadjaran, v1(n2), 112–123. https://doi.org/10.24198/jkp.v1n2.7
[10]. Gaol, R. L. (2022). Gambaran Karakteristik Pasien Hipertensi di Rumah Sakit Umum Full Bethesda Medan Tahun 2021. . Jurnal Online Keperawatan Indonesia, 5(1), 30-37
[11]. Pratama, Ilham Bachtiar Adi, Fildza Huwaina Fathnin, and Irwan Budiono. "Analisis Faktor yang Mempengaruhi Hipertensi di Wilayah Kerja Puskesmas Kedungmundu." Prosiding Seminar Nasional Pascasarjana (PROSNAMPAS). Vol. 3. No. 1. 2020.
[12]. Ulfasari, P. (2019). Hubungan Self Management Dengan Tekanan Darah Lansia Hipertensi DIi Prolanis Puskesmas Kasihan II Bantul Yogyakarta (Doctoral dissertation, Universitas Alma Ata Yogyakarta).
[13]. Bar, A. (2022). "Dukungan Keluarga dan Self Efikasi Terhadap Self Manajemen Penderita Hipertensi. Jurnal Keperawatan Silampari 5.2, 750-757.
[14]. Mathavan, J. a. (2017). "Gambaran tingkat pengetahuan terhadap hipertensi dan kepatuhan minum obat pada penderita hipertensi di wilayah kerja Puskesmas kintamani I. " Intisari Sains Medis 8.3, 176-180.
[15]. Fatmawati, B. R. (2021). Self Efficacy Dan Perilaku Sehat Dalam Modifikasi Gaya Hidup Penderita Hipertensi. Jurnal Ilmiah Stikes YARSI Mataram 11.1 , 1-7.
[16]. Agastiya, I. M. C., Nurhesti, P. O. Y., & Manangkot, M. (2020). Hubungan Self-Efficacy dengan Self-Management Behaviour pada Pasien Hipertensi. Community of Publishing in Nursing (COPING), 8(1), 65–72.

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.
About the Journal